Serba-Serbi Bulan Sya’ban

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal
Alhamdulillah, saat ini kita telah
menginjak bulan Sya’ban. Namun
kadang kaum muslimin belum
mengetahui amalan -amalan yang
ada di bulan tersebut. Juga
terkadang kaum muslimin
melampaui batas dengan
melakukan suatu amalan yang
sebenarnya tidak ada tuntunannya
dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Semoga dalam tulisan yang
singkat ini , Allah memudahkan
kami untuk membahas serba-serbi
bulan Sya’ ban. Allahumma a ’in wa
yassir ( Ya Allah , tolong dan
mudahkanlah kami ).
Banyak Berpuasa di Bulan Sya’ban
Terdapat suatu amalan yang dapat
dilakukan di bulan ini yaitu amalan
puasa. Bahkan Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam sendiri banyak
berpuasa ketika bulan Sya’ban
dibanding bulan- bulan lainnya
selain puasa wajib di bulan
Ramadhan.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ,
beliau mengatakan, “Rasulullah
shallallahu ‘ alaihi wa sallam biasa
berpuasa, sampai kami katakan
bahwa beliau tidak berbuka .
Beliau pun tidak berpuasa sampai
kami katakan bahwa beliau tidak
berpuasa. Aku tidak pernah sama
sekali melihat Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
berpuasa secara sempurna
sebulan penuh selain pada bulan
Ramadhan. Aku pun tidak pernah
melihat beliau berpuasa yang lebih
banyak daripada berpuasa di bulan
Sya’ban.” ( HR. Bukhari no. 1969 dan
Muslim no. 1156) . Dalam lafazh
Muslim, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha
mengatakan, “ Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam biasa berpuasa
pada bulan Sya’ban seluruhnya .
Namun beliau berpuasa hanya
sedikit hari saja. ” (HR . Muslim no .
1156) . Dari Ummu Salamah, beliau
mengatakan, “ Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam dalam setahun
tidak berpuasa sebulan penuh
selain pada bulan Sya’ ban, lalu
dilanjutkan dengan berpuasa di
bulan Ramadhan .” ( HR. Abu Daud
dan An Nasa ’i . Syaikh Al Albani
mengatakan bahwa hadits ini
shahih)
Lalu apa yang dimaksud dengan
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
biasa berpuasa pada bulan Sya’ban
seluruhnya (Kaana yashumu
sya ’ban kullahu )? Asy Syaukani
mengatakan, “ Riwayat- riwayat ini
bisa dikompromikan dengan kita
katakan bahwa yang dimaksud
dengan kata “ kullu ” (seluruhnya )
di situ adalah kebanyakannya
(mayoritasnya). Alasannya ,
sebagaimana dinukil oleh At
Tirmidzi dari Ibnul Mubarrok .
Beliau mengatakan bahwa boleh
dalam bahasa Arab disebut
berpuasa pada kebanyakan hari
dalam satu bulan dengan
dikatakan berpuasa pada seluruh
bulan.” ( Nailul Author, 7 /148 ) . Jadi,
yang dimaksud Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam berpuasa di
seluruh hari bulan Sya’ ban adalah
berpuasa di mayoritas harinya .
Hikmah di balik puasa Sya’ban
adalah:
1. Bulan Sya’ban adalah bulan tempat
manusia lalai . Karena mereka
sudah terhanyut dengan
istimewanya bulan Rajab (yang
termasuk bulan Harom ) dan juga
menanti bulan sesudahnya yaitu
bulan Ramadhan. Tatkalah
manusia lalai, inilah keutamaan
melakukan amalan puasa ketika
itu .
2. Puasa di bulan Sya’ban adalah
sebagai latihan atau pemanasan
sebelum memasuki bulan
Ramadhan. Jika seseorang sudah
terbiasa berpuasa sebelum puasa
Ramadhan, tentu dia akan lebih
kuat dan lebih bersemangat untuk
melakukan puasa wajib di bulan
Ramadhan. ( Lihat Lathoif Al
Ma ’arif, hal . 234 -243 )
Menghidupkan Malam Nishfu
Sya’ban dengan Shalat dan Do’a
Sebagian ulama negeri Syam ada
yang menganjurkan untuk
menghidupkan atau memeriahkan
malam tersebut dengan berkumpul
ramai-ramai di masjid . Landasan
mereka sebenarnya adalah dari
berita Bani Isroil ( berita
Isroiliyat). Sedangkan mayoritas
ulama berpendapat bahwa
berkumpul di masjid pada malam
Nishfu Sya’ ban – dengan shalat ,
berdo’a atau membaca berbagai
kisah- untuk menghidupkan malam
tersebut adalah sesuatu yang
terlarang. Mereka berpendapat
bahwa menghidupkan malam
Nishfu Sya’ban dengan berkumpul
di masjid rutin setiap tahunnya
adalah suatu amalan yang tidak
ada tuntunannya (baca : bid ’ah ).
Namun bagaimanakah jika
menghidupkan malam Nishfu
Sya’ban dengan shalat di rumah
dan khusus untuk dirinya sendiri
atau mungkin dilakukan dengan
jama ’ah tertentu ( tanpa terang –
terangan, pen)? Sebagian ulama
tidak melarang hal ini. Namun,
mayoritas ulama -di antaranya
adalah ‘Atho , Ibnu Abi Mulaikah ,
para fuqoha (pakar fiqih )
penduduk Madinah, dan ulama
Malikiyah -mengatakan bahwa hal
tersebut adalah sesuatu yang tidak
ada tuntunannya ( baca: bid ’ah ).
(Lathoif Al Ma ’arif, 247 -248 ) . Dan di
sini pendapat mayoritas ulama itu
lebih kuat (rojih ). Adapun
sanggahan untuk pendapat yang
mengatakan bahwa menghidupkan
malam Nishfu Sya’ban dengan
shalat sendirian di rumah tidaklah
terlarang adalah sebagai berikut.
Pertama, tidak ada satu dalil pun
yang shahih yang menjelaskan
keutamaan malam Nishfu Sya’ ban.
Bahkan Ibnu Rajab sendiri
mengatakan, “Tidak ada satu dalil
pun yang shahih dari Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
para sahabat yang menganjurkan
menghidupkan malam Nishfu
Sya’ban. Dan dalil yang ada
hanyalah dari beberapa tabi’in
yang merupakan fuqoha’ negeri
Syam.” (Lathoif Al Ma ’arif , 248 ) .
Kedua, ulama yang mengatakan
tidak mengapa menghidupkan
malam Nishfu Sya’ ban dan
menyebutkan bahwa ada sebagian
tabi’in yang menghidupkan malam
tersebut, sebenarnya sandaran
mereka adalah dari berita
Isroiliyat. Lalu jika sandarannya
dari berita tersebut , bagaimana
mungkin bisa jadi dalil untuk
beramal [?] Juga orang -orang yang
menghidupkan malam Nishfu
Sya’ban, sandaran mereka adalah
dari perbuatan tabi ’in. Kami
katakan , “Bagaimana mungkin
hanya sekedar perbuatan tabi’in
itu menjadi dalil untuk beramal
[?]” (Lihat Al Bida’ Al Hawliyah , 296 )
Ketiga, adapun orang-orang yang
berdalil dengan pendapat bahwa
tidak terlarang menghidupkan
malam Nishfu Sya’ban dengan
shalat sendirian sebenarnya
mereka tidak memiliki satu dalil
pun. Seandainya ada dalil tentang
hal ini , tentu saja mereka akan
menyebutkannya. Maka cukup
kami mengingkari alasan semacam
ini dengan hadits Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam , “Barangsiapa
melakukan suatu amalan yang
bukan ajaran kami , maka amalan
tersebut tertolak .” ( HR. Muslim no .
1718) . Ingatlah, ibadah itu haruslah
tauqifiyah yang harus dibangun di
atas dalil yang shahih dan tidak
boleh kita beribadah tanpa dalil
dan tanpa tuntunan dari Nabi
shallallahu ‘ alaihi wa sallam . (Lihat
Al Bida ’ Al Hawliyah, 296 -297 )
Keempat, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda ,
“Janganlah mengkhususkan malam
Jum’at dari malam lainnya untuk
shalat. Dan janganlah
mengkhususkan hari Jum’ at dari
hari lainnya untuk berpuasa. ” (HR .
Muslim no . 1144 ) Seandainya ada
pengkhususan suatu malam
tertentu untuk ibadah, tentu
malam Jum’at lebih utama
dikhususkan daripada malam
lainnya. Karena malam Jum’at
lebih utama daripada malam-
malam lainnya . Dan hari Jum’at
adalah hari yang lebih baik dari
hari lainnya karena dalam hadits
dikatakan, “Hari yang baik saat
terbitnya matahari adalah hari
Jum’at. ” (HR . Muslim ). Tatkala Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam
memperingatkan agar jangan
mengkhususkan malam Jum’at dari
malam lainnya dengan shalat
tertentu, hal ini menunjukkan
bahwa malam-malam lainnya lebih
utama untuk tidak boleh
dikhususkan suatu ibadah di
dalamnya kecuali jika ada suatu
dalil yang mengkhususkannya . (At
Tahdzir minal Bida’ , 28) . Semoga
Allah selalu memberi hidayah
kepada kaum muslimin yang masih
ragu dengan berbagai alasan ini.
Puasa Setelah Pertengahan
Sya’ban
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika
tersisa separuh bulan Sya’ ban,
janganlah berpuasa. ” (HR . Tirmidzi
no. 738 dan Abu Daud no. 2337 )
Dalam lafazh lain, “Jika tersisa
separuh bulan Sya’ ban, maka tidak
ada puasa sampai datang
Ramadhan.” ( HR. Ibnu Majah no .
1651)
Sebenarnya para ulama berselisih
pendapat dalam menilai hadits –
hadits di atas dan hukum
mengamalkannya. Di antara ulama
yang menshahihkan hadits di atas
adalah At Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al
Hakim, Ath Thahawiy, dan Ibnu
‘Abdil Barr . Di antara ulama
belakangan yang
menshahihkannya adalah Syaikh Al
Albani rahimahullah.
Sedangkan ulama lainnya
mengatakan bahwa hadits
tersebut adalah hadits yang
mungkar dan hadits mungkar
adalah di antara hadits yang
lemah. Di antara ulama yang
berpendapat demikian adalah
’Abdurrahman bin Mahdiy , Imam
Ahmad, Abu Zur’ah Ar Rozi , dan Al
Atsrom. Alasan mereka adalah
karena hadits di atas
bertentangan dengan hadits ,
“Janganlah mendahulukan
Ramadhan dengan sehari atau dua
hari berpuasa. ” ( HR. Muslim no .
1082) . Jika dipahami dari hadits ini ,
berarti boleh mendahulukan
sebelum ramadhan dengan
berpuasa dua hari atau lebih .
Al Atsrom mengatakan, “ Hadits
larangan berpuasa setelah separuh
bulan Sya’ ban bertentangan
dengan hadits lainnya. Karena Nabi
shallallahu ‘ alaihi wa sallam sendiri
berpuasa di bulan Sya’ban
seluruhnya (mayoritasnya) dan
beliau lanjutkan dengan berpuasa
di bulan Ramadhan. Dan hadits di
atas juga bertentangan dengan
hadits yang melarang berpuasa
dua hari sebelum Ramadhan.
Kesimpulannya, hadits tersebut
adalah hadits yang syadz,
bertentangan dengan hadits yang
lebih kuat .”
At Thahawiy mengatakan bahwa
mayoritas ulama memang tidak
mengamalkan hadits tersebut.
Namun ada pendapat dari Imam
Asy Syafi ’ i dan ulama Syafi ’iyah ,
juga hal ini mencocoki pendapat
sebagian ulama belakangan dari
Hambali. Mereka mengatakan
bahwa larangan berpuasa setelah
separuh bulan Sya’ ban adalah bagi
orang yang tidak memiliki
kebiasaan berpuasa ketika itu .
Jadi bagi yang memiliki kebiasaan
berpuasa ( seperti puasa senin-
kamis), boleh berpuasa ketika itu ,
menurut pendapat ini . (Lihat
Lathoif Al Ma ’ arif, 244 – 245 )
Puasa Satu atau Dua Hari Sebelum
Ramadhan
Dari Abu Hurairah, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “ Janganlah
mendahulukan Ramadhan dengan
sehari atau dua hari berpuasa
kecuali jika seseorang memiliki
kebiasaan berpuasa , maka
berpuasalah.” ( HR. Muslim no .
1082)
Berdasarkan keterangan dari Ibnu
Rajab rahimahullah , berpuasa di
akhir bulan Sya’ban ada tiga
model:
Pertama, jika berniat dalam
rangka berhati-hati dalam
perhitungan puasa Ramadhan
sehingga dia berpuasa terlebih
dahulu, maka seperti ini jelas
terlarang.
Kedua , jika berniat untuk
berpuasa nadzar atau mengqodho
puasa Ramadhan yang belum
dikerjakan, atau membayar
kafaroh (tebusan ), maka
mayoritas ulama
membolehkannya.
Ketiga, jika berniat berpuasa
sunnah semata , maka ulama yang
mengatakan harus ada pemisah
antara puasa Sya’ ban dan
Ramadhan melarang hal ini
walaupun itu mencocoki kebiasaan
dia berpuasa, di antaranya adalah
Al Hasan Al Bashri .
Namun yang tepat dilihat apakah
puasa tersebut adalah puasa yang
biasa dia lakukan ataukah tidak
sebagaimana makna tekstual dari
hadits. Jadi jika satu atau dua hari
sebelum Ramadhan adalah
kebiasaan dia berpuasa – seperti
puasa Senin -Kamis -, maka itu
dibolehkan. Namun jika tidak,
itulah yang terlarang. Pendapat
inilah yang dipilih oleh Imam Asy
Syafi’ i, Imam Ahmad dan Al Auza ’ i.
(Lihat Lathoif Al Ma ’arif, 257 – 258 )
Kenapa ada larangan
mendahulukan puasa satu atau
dua hari sebelum Ramadhan?
Pertama, jika berpuasa satu atau
dua hari sebelum Ramadhan
adalah dalam rangka hati- hati,
maka hal ini terlarang agar tidak
menambah hari berpuasa
Ramadhan yang tidak dituntunkan.
Kedua, agar memisahkan antara
puasa wajib Ramadhan dan puasa
sunnah di bulan Sya’ban . (Lihat
Lathoif Al Ma ’ arif, 258 – 259 )
Demikian pembahasan singkat
kami mengenai panduan amalan di
bulan Sya’ban. Semoga apa yang
kami suguhkan ini bermanfaat bagi
kaum muslimin sekalian .
[Muhammad Abduh Tuasikal ]

About dkmannahl

dkm annahl fapet unpad

Posted on 9 July 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: