Kuatkan Ikatannya, Terangilah Jalannya dengan cahaya Mu

curug sabuk

curug sabuk

Suatu hari di lembah curam, sekelompok pemuda-pemudi memekik takbir dengan penuh semangat “Allaahu Akbar” saling bersahutan. Meski malam yang gelap tak mematahkan semangat untuk meneruskan langkah menuju tujuan yang berada di angan-angan. Entah sampai kapan langkah ini akan sampai pada tempat yang terang benderang, jalan yang lurus, mulus, tanpa onak dan duri yang menghadang.

Sungguh perjalanan yang melelahkan hati dan pikiran. Sudah sampai di mana kita? Pertanyaan konyol pada saat itu. “ikhwan kami butuh tali!!!” teriak para akhwat ketika jalan yang akan dilewati berupa turunan yang licin dan gelap. Lalu dengan sigap salah satu dari ikhwan menjulurkan tali berupa kain spanduk “nih tangkap” kata ikhwan tersebut. Dengan sigap akhwat pun menangkapnya. Saat itu seolah semua saling percaya dengan apa yang diintruksikan. Tak ada bantahan atau pun perselisihan. Nampak kompak, akhwat berbaris sambil berpegangan tangan dan saling memberi motivasi diantara barisan ikhwan di depan sebagai penunjuk arah perjalanan dan yang di belakang sebagai pengamat dan penjaga.

Semua terjadi seolah begitu saja, kerudung panjang, rok lebar kaki beralas kaos kaki yang nampak sudah penuh lumpur, bahkan ada yang memakai sepatu yang berbeda karena sepatunya hilang ditelan lumpur tak menjadi keluh pada saat itu. “Takbir!!!!!” pekik seorang ikhwan dari belakang “Allaahu Akbar” sahut semua anggota perjalanan (jaulah). Ketika itu suasana semakin gelap dan nampak di hadapan sungai yang cukup deras. Kembali ikhwan pembawa kain spanduk bekas berlari mendahului pasukan perjalanan “nich pegang tali ini awas hati-hati” kata ikhwan tersebut dengan nada cemas dan tegas. Para akhwat pun memegang tali tersebut dengan hati-hati, dan terlihat kecemasan menimpa mereka.

“Byurrrr” terdengar suara air yang tertimpa tubuh seorang akhwat dan itu berulang. Namun dengan gigih dia bangkit dan berteiak “untuk DKM masa depan Allaahu Akbar” yang lainnya pun ikut hanyut dengan nada takbir yang begitu semangat. Sungguh luar biasa. Hal ini terjadi bukan hanya pada seorang akhwat saja tapi beberapa akhwat. Mereka hampir-hampir saja hanyut.

Seraya hanya diam seolah semua kejadian hanya mimpi belaka tapi saat kaki ini menginjak benda tajam berduri. Tersadarkan bahwa ini nyata. Bulan yang sebagian menerangi jalan tak mampu memberikan cahaya jelas pada mata kami saat itu. Bahkan hanya berbekal cahaya Hape yang satu persatu mulai lowbattery.

“akh, antum bawa camdi kan?” kata seorang ikhwan. “oh ya, tapi nyalanya hanya sesekali” sahut ikhwan yang dimaksud sambil mengeluarkan camdi dari tasnya. Kami pun akhirnya memperoleh tiga sumber penerangan Hape, camdi, dan cahaya bulan yang seolah tak berdaya menerangi penglihatan kami.

“akh ini hape siapa yang berbunyi? Kayaknya da yang nelpon” semua tak berani menyahut seolah tak penting dalam pikirannya. Hanya focus pada jalan yang ditapaki sampai hape tersebut berdering beberapa kali. Setelah semua tersadar waktu itu jam 9 malam dan mereka belum ada yang konfirmasi ke orang tua, maka satu per satu mulai menengoki hape masing-masing. Semua obrolan berbeda satu sama lainnya. Dalam benak masing-masing baru tersadar kalau di rumah ada yang mencemaskan.

Suasana kembali pada perjalanan, kami belum keluar hutan juga. Terasa panjang perjalan ini. Jam 10 sudah lewat kami belum menemukan titik terang juga. “Brukkk” suara itu………… suara itu khas seorang ikhwan yang berbadan lumayan berisi menghiasi perjalan kami. “akh dah yang ke berapa kali antum jatuh?” Tanya seorang ikhwan “ini yang ke sebelas kali akh” jawab ikhwan tersebut sambil bangkit. Perjalanan yang sempat terhenti kembali berlanjut.

Tepat pukul 11 lewat kami baru menemukan gerbang masuk hutan yang seolah tak berujung. “kita dah sampai di jembatan sebilah kayu” teriak ikhwan di barisan depan akhwat. “Allaahu Akbar” teriak seluruh barisan.

Meski kami sudah keluar hutan namun tantangan berikutnya adalah menyusuri sungai kecil yang membuat mata kami terbelalak. Jalannya kecil, berlumpur, berkerikil, dan sedikit jarak ke jurang. Hmmmm hela nafas lelah terdengar. Namun kembali semangat perjalanan terus berlanjut. Sampai akhirnya  kami bertemu dengan warga yang yang membawa penerangan cukup. Rasa syukur seolah tak terbendung lagi, pertolongan Allah kembali hadir setelah selama perjalanan memberi kesabaran dan kekuatan pada kami.

Dan sesaat setelah itu sedikit demi sedikit kami melalui jalan-jalan yang berliku, hingga akhirnya kami sampai di perkampungan dan bertemu dengan al akh yang membawa kendaraan untuk menjemput kami. Meski akhirnya kami tetap melaksanakan MABIT di masjid Sholahudin Al Ayubi, Kampung Toga Sumedang yang tidak terlalu jauh dari tempat kami bertemu. Itulah akhir bulan Mei, semalam di Curug sabuk cerita sepanjang masa.

Ikhwah fillah.

Inilah jalan kita, sebuah renungan panjang menjadi buah dari perjalan kita saat itu. Antum adalah pelakunya, biarlah Allah saja yang mencatat torehan cerita kita. Duri yang kau injak, binatang penghisap darah yang menempel di kaki mu, sepatu yang tertanam dalam tumpukan lumpur, tubuh yang hampir hanyut, tubuh yang terseret tanah yang licin menjadi kakuatan kita untuk senantiasa bergerak dan berjuang. Sadar atau tidak, hijab tetap tertanam meski rasa takut meliputi kita saat itu. Kerudung panjang yang menutupi auratmu para akhwat dan menjadi beban perjalanan mu menjadi saksi kekuatan iman di dadamu. Bahkan rok panjang yang terseret-seret di permukaan tanah menjadi saksi bisu atas semua yang antum pikirkan selama perjalanan.

Tetaplah pekikan takbirmu terus menancap di dadamu, dan do’amu menjadi pengiring keterikatan hati kita. “ya Allah sesungguhnya ini adalah malam Mu yang telah menjelang dan siang Mu yang telah berlalu, serta suara-suara dari para penyeru Mu, maka ampunilah aku. Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya kepadaMu, bertemu untuk taat kepada Mu, bersatu dalam rangka menyeru di jalan Mu, dan berjanji setia untuk membela syari’atMu, maka kuatkanlah ikatan pertaliannya. Ya Allah abadikanlah kasih sayangnya, tunjukkanlah jalannya, dan penuhilah dengan cahaya Mu yang tak pernah redup. Lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakkal kepada Mu, hidupkanlah dengan makrifatMu, dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalan Mu, sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Aaamiin…………”

Inilah cindera mata bagi antum yang tak pernah gentar, walau rintangan terus menghadang.

An-Nahl, 4 Juni 2009

Pengagum Shahabat Rasul, Muadz bin Jabal.

About dkmannahl

dkm annahl fapet unpad

Posted on 9 June 2009, in tausiyah and tagged , , , . Bookmark the permalink. 5 Comments.

  1. BAGUS, tapi alangkah lebih bagus kalo lebih dinamis. Biar lebih dekat dengan nilai ISTIQOMAH

  2. sebuah cerita untuk masa depan…

  3. Subhanallah sekali, dua kali, tiga kali, n se teuz’a..
    hohhoo…

    mo lage dun..
    boleh tak??

  4. Subhanallah…
    cerita yang sungguh menggugah jiwa-jiwa pembacanya…

    syukran buat akh Mu’adz bin jabal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: